Tujuh kali menjalin hubungan dengan lelaki yang berbeda-beda membuatku tahu dan bisa merasakan lika liku kehidupan. Dari penderitaan sampai kebahagiaan luar biasa.
Pengalaman diselingkuhi menjadi pengalaman pertama yang harus dihadapi, dan berakhir dengan tangis.
Pengalaman menjalani hubungan dengan keterpaksaan menjadi pengalaman yang harus berakhir hanya dalam jangka waktu 2 minggu, dan harus berakhir dengan permohonan maaf. Namun kurasa setelah itu aku sangat lega.
Pengalaman dianggap wanita yang membosankan menjadi pengalaman yang sangat pahit. Dan tidak tahu harus bagaimana lagi. Tapi dilain pihak kini ia harus merasakan bagaimana berharga nya aku dimasa itu. Tapi kini, aku tidak mau lagi mengulangnya. Cukup hanya saat itu.
Pengalaman berpacaran paling indah dengan seorang berbeda agama yang berani mengenalkan aku pada orang tuanya, yang dengan langkah pasti mengisi hari2 LDR dengan sangat indah, tapi harus berakhir karena agama. Seorang lelaki tampan, bijaksana, berintelek yang pernah aku kenal. Mencintaiku, memujaku, dan tidak bisa jauh darinya. Namun meski demikian kini dia telah sangat berubah, mungkin dia sedang berada dijalan lurus agamanya. Dia dan wanita berjilbab yang pernah kucurigai, aku ikhlas melihatmu sekarang bersamanya. Walau sampai sekarang mimpiku tidak jauh dari wajahnya yang tampan.
Pengalaman berpacaran karena pelampiasan juga pernah dialami. Harus berpura2 sayang, padahal hanya melampiaskan sejenak karena masih belum bisa melupakan kenangan terindah sebelumnya. Dan harus berakhir dengan berpura2 maslaha agama, padahal sebenarnya memang tidak sayang.
Pengalaman berpacaran dengan lelaki yang baru pertama berpacaran, obesesif, kasar adalag pengalaman terburuk, terkelam yang harus dialami. Hidup seakan2 sudah berakhir, menjatuhkan seluruh harga diri, menjadi wanita yang tidak pernah percaya diri dan hanya menyalahkan diri sendiri. Ini adalag masa terkelam dan bersyukur karena akhirnya berakhir dengan tidak damai. Ada seseorang yang jauh2 lebih lembut yang akhirnya menjafi lembaran cerita baru.
Pengalaman terkhir yang pahit manis. Bersama dia yang sangat aku cinta, mungkin tidak bisa dibandingkan dengan pengalaman bersama si tampan. Tega adalah sifatnya yang sering membuatku menangis di kamar mandi. Menghabiskan tisu dan kembali ke meja kantor dengan mata sembab. Tapi pengalaman ini sungguh berharga, aku sangat mencintainya. Ia tidak seberani si tampan yang dengan bangga membawaku ke depan orang tua dan sahabat2 nnya seakan aku ini hanya boleh disimpan, tidak perlu kelihatan. Menjadi wanita yang disayang namun tidak diharapkan ternyata sangat sakit. Berat memang, tapi dy yang paling kusayang dari semuanya. Banyak hal yg sudah kuberikan, materi, jiwa, cinta... tapi dari sini, dari pengalaman dengannya aku tahu, tidak semua yang kita perjuangkan sampai letih, sampai berdarah, sampai kurus, sampai nangis darah, sampai mati pun ada hal yang tidak bisa diperoleh. Dan yang sangat sakit adalah karena hal itu adalah perbedaan agama
Di pacaran yang terakhir ini kadang aku merasa tidak punya harga diri. Banyak hal yang sering membuat sedih tapi semua hanya harus aku lewati. Seperti Tuhan Yesus yang mencintaiku tanpa mengharapkan imbalan, seperti itu aku mencintai dia yang telah mengakhiri hubungannya denganku.
Karena aku tahu suatu saat Tuhan akan memberiku lelako yang sayang, mengharapkan aku, dan aku akan bahagia. Amin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar